Jumat, 14 Juni 2013

Tanah



TANAH DAN PEMUPUKAN

Disusun Oleh :

Liska Ayulia
J3W412041

 


Produksi dan Pengembangan Pertanian Terpadu
Program Diploma
Institut Pertanian Bogor
2013


DAFTAR ISI













PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

 Tekstur tanah merupakan salah satu sifat tanah yang menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi tanah berupa fraksi pasir, debu dan liat. Tekstur tanah sangat menentukan tingkat pertumbuhan tanaman dan penyerapan air serta mineral. Tekstur tanah berpengaruh terhadap ketersediaan air yang ada di dalam tanah, semakin besar maka akan semakin porus dan akar akan mudah melakukan penetrasi. Untuk mengetahui peranan tekstur tanah bagi ketersediaan air, untuk hara dan pertumbuhan tanaman, maka pentingnya dilakukan pengamatan tekstur tanah ini. Apabila kita memahami dan mengetahui berbagai macam tekstur tanah itu sendiri, sehingga dalam melakukan budidaya akan menjadi optimal (Praharyanto, 2012).
Selain tekstur tanah pH tanah juga sangat berpengaruh terhadap budidaya tanaman. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H+) di dalam tanah. Semakin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah tersebut. Di dalam tanah selain H+ dan ion-ion lain ditemukan pula ion OH-, yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya H+. Pada tanah-tanah masam jumlah ion H+ lebih tinggi daripada OH-, sedangkan pada tanah alkalis kandungan OH- lebih banyak daripada H+. Bila kandungan H+ sama dengan OH- , maka tanah bereaksi netral yaitu mempunyai pH = 7 (Anonim 1991). Tanah di Indonesia pada umumnya bersifat  masam dengan kisaran pH 4,0 – 5,5 sehingga tanah dengan pH 6,0 – 6,5 bisa dikatakan cukup netral meskipun sebenarnya masih agak masam. Di daerah rawa-rawa sering ditemukan tanah-tanah sangat masam dengan pH kurang dari 3,0 yang disebut tanah sangat masam karena banyak mengandung asam sulfat.


 1.2. Tujuan


Ø  Menentukan tekstur dan jenis tanah.
Ø  Menentukan warna tanah dengan Munsell Soil color Chart
Ø  Menentukan bentuk dan ukuran dari agregat tanah.
Ø  Mengetahui tekstur tanah berhubungan dengan pertumbuhan tanaman.
Ø  Menetapkan pH tanah dengan menggunakan menggunakan kertas pH paper.
Ø  Mengetahui percobaan Minus One Test.











 

 

 

 


BAHAN DAN METODE


2.1. Pengambilan Contoh Tanah
Hari                                        : Sabtu
Waktu                                     : di Lahan Gunung Gede Diploma IPB

Alat :
·        Cangkul
·        Pisau / Cutter
·        Garpu
·        Ring Sampel
Bahan :
·        Tanah Utuh
·        Tanah Agregat
·        Tanah Terganggu

Prosedur Pengambilan :
a.    Tanah Utuh
1.    Ratakan dan bersihkan permukaan tanah dari rumput atau serasah.
2.    Gali tanah sampai kedalaman tertentu (5-10 cm) di sekitar calon tabung tembaga diletakkan, kemudian ratakan tanah dengan pisau.
3.    Letakkan tabung di atas permukaan tanah secara tegak lurus dengan permukaan tanah, kemudian dengan menggunakan balok kecil yang diletakkan di atas permukaan tabung, tabung ditekan sampai tiga perempat bagian masuk ke dalam tanah.
4.    Letakkan tabung lain di atas tabung pertama dan tekan sampai 1 cm masuk ke dalam tanah.
5.    Pisahkan tabung bagian atas dari tabung bagian bawah.
6.    Gali tabung menggunakan garpu. Dalam menggali, ujung garpu harus lebih dalam dari ujung tabung agar tanah di bawah tabung ikut terangkat.
7.    Iris kelebihan tanah bagian atas terlebih dahulu dengan hati-hati agar permukaan tanah sama dengan permukaan tabung, kemudian tutuplah tabung dengan menggunakan tutup plastik yang telah tersedia. Setelah itu, iris dan potong kelebihan tanah bagian bawah dengan cara yang sama dan tutuplah tabungnya.
8.    Cantumkan label di atas tutup tabung bagian atas contoh tanah.
b.    Tanah Agregat
1.    Ambil tanah dengan menggunakan cangkul pada kedalaman 0-20 cm.
2.    Masukkan bongkahan tanah ke dalam kantong plastik.
3.    Cantumkan label.
c.    Tanah Terganggu
1.    Ambil tanah dengan menggunakan cangkul pada kedalaman tertentu sebanyak 1-2 kg.
2.    Masukkan ke dalam kantong plastik.
3.    Cantumkan label.

2.2. Tekstur  dan Warna  Tanah
Hari                                        : Sabtu
Waktu                                     : di Lahan Gunung Gede Diploma IPB
Alat :
·        Munsell Soil Color Chart

Bahan :
·        Tanah Regosol
·        Tanah Latosol
·        Tanah Andosol

·        Tanah Podsolik
·        Tanah Agregat
·        Air

Prosedur :
a.    Tekstur Tanah
1.    Ambil tanah satu genggam dan basahi dengan air secukupnya.
2.    Pijit dan pirit tanah tersebut di antara ibu jari dengan jari yang lainnya dan rasakan tekstur pada tanah.
3.    Bentuklah bola lembab dengan diameter 2,5 cm.
4.    Perhatikan bola yang terbentuk apakah utuh atau retak/pecah.
5.    Lihat urutan kerja sesuai dengan skema gambar.
b.      Warna Tanah
1.      Ambil tanah agregat bagian atas dan bawah.
2.      Siapkan Munsell Soil Color Chart.
3.      Belah tanah agregat menjadi dua.
4.      Letakkan tanah bagian dalam di bawah lubang kertas Munsell Soil Color Chart.
5.       Catatlah hasilnya.

2.3. pH Tanah

Hari                                        : Sabtu
Waktu                                     : di Lahan Gunung Gede Diploma IPB
Alat :
·        pH paper skala 4-7
·        Botol plastik

Bahan :
·        Tanah Atas dan Bawah
·        Tanah Andosol
·        Tanah Latosol

·        Tanah Podsolik
·        Tanah Regosol
·        Akuades

Prosedur Pengukuan pH Tanah :
1.      Masukkan tanah sekitar 10 gram ke dalam botol plastik setiap masing-masing jenis tanah.
2.      Tambahkan akuades 25 cc.
3.      Kocok selama 5 menit dan diamkan hingga tanah mengendap.
4.      Celupkan pH paper.
5.      Ukur nilainya.

2.4. Percobaan Minus One Test      

Hari                                        : Sabtu
Waktu                                     : di Lahan Gunung Gede Diploma IPB

Alat :
·        Cangkul
·        Garpu
·        Kored
·        Tali Rafia
·        Gunting
·        Gembor
·        Tugal
·        Timbangan
·        Kayu Ajir
·        Foto tentang defisiensi hara

Bahan :
·        Benih Jagung
·        Kapur
·        Pupuk (N, P, K, Mg, Ca, S)
·        Urea
·        Pestisida
·        Furadan
·        Air

Prosedur  Penanaman Tanaman Jagung :
1.      Persiapan dan Pengolahan Lahan
Lahan yang digunakan seluas 2,4 m x 6,4 m. Lahan dibagi menjadi dua petak untuk perlakuan pupuk yang berbeda yaitu -P dan -Mg. Gemburkan lahan menggunakan cangkul dan buat saluran drainase agar aerasi berlangsung baik. Kemudian taburkan kapur secara merata guna meurunkan sifat asam tanah dan diamkan selama satu minggu.
2.      Penanaman
Buatlah jarak tanam 80 cm x 40 cm. Gunakan tali rafia dan kayu ajir untuk mempermudah pembuatan lubang tanam dan lubang tanam. Buat lubang tanam menggunakan tugal. Masukkan furadan pada tiap lubang tanam dan letakkan 2 benih jagung per lubang. Tutup lubang tanam dengan tanah.
3.      Penyulaman dan Pemeliharaan Tanaman
Sulamlah tanaman yang tidak tumbuh dengan benih baru. Bersihkan gulma dan rumput liar menggunakan kored.
4.      Pemupukan
Setiap petak perlakuannya berbeda. Petak pertama menggunakan pupuk –Mg dan petak kedua pupuk –P. Pada tiap petak juga diberi pupuk urea. Pupuklah dengan membuat alur di samping tanaman.
5.      Pengamatan Defisiensi Hara
Kenali dan amati gejala defisiensi hara yang ada pada foto. Lalu amati gejala defisiensi hara yang ada pada tanaman jagung. Catat perlakuannya dan cocokkan dengan gejala defisiensi hara yang ada di foto.
6.      Pemanenan
Panenlah semua tanaman jagung. Ambil 20 buah untuk sampel pada masing-masing perlakuan lalu timbang.

HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1. Pengambilan Contoh Tanah

Pengambilan contoh tanah merupakan tahapan penting untuk menetapkan sifat-sifat tanah di laboratorium. Hasil analisis tanah di laboratorium harus dapat menggambarkan keadaan yang sesungguhnya di lapang. Keuntungan penetapan sifat fisik, kimia dan biologi tanah di laboratorium dapat dikerjakan lebih cepat dan dengan jumlah contoh yang relatif banyak. Kerugiannya adalah contoh tanah yang diambil di lapangan bersifat destruktif, karena dapat merusak permukaan tanah, seperti terjadinya lubang bekas pengambilan contoh tanah, cenderung menyederhanakan kompleksitas sistem yang ada di dalam tanah dan sebagainya.
Pengambilan contoh tanah sangat menentukan tingkat keakuratan hasil analisis di laboratorium. Oleh karena itu, metode atau cara pengambilan contoh tanah yang tepat sesuai dengan jenis analisis yang akan dilakukan merupakan persyaratan yang perlu diperhatikan (Hanafiah, 2004). Pengambilan contoh tanah sesuai dengan prosedur yang benar ini sangat penting agar data yang dihasilkan dapat digunakan sebagai penduga nilai rata-rata tingkat kesuburan tanah yang akan digunakan sebagai media tanam (Hidayat dan Makarim, 1992). Penyebab utama dari contoh tanah tidak representatif antara lain adalah kontaminasi dan jumlah contoh tanah yang terlalu sedikit untuk daerah yang variabilitas kesuburannya tinggi.
Contoh tanah adalah suatu volume massa tanah yang diambil dari suatu bagian tubuh tanah (horison/lapisan/solum) dengan cara-cara tertentu dengan sifat-sifat yang dimiliki (Hardjowigeno, 1987). Untuk keperluan analisis di laboratorium  diperlukan tiga macam contoh tanah, yaitu (1) Contoh tanah utuh (Undisturbed soil sample), (2) Contoh tanah agregat utuh (Undisturbed soil agregate), dan (3) Contoh tanah terganggu (Disturbed soil sample). Contoh tanah utuh digunakan untuk penetapan sifat-sifat fisik tanah seperti kerapatan isi, distribusi ruang pori, permeabilitas tanah dan kurva pF. Contoh tanah agregat utuh juga digunakan untuk penetapan sifat-sifat fisik tanah, yaitu stabilitas agregat dan kemampuan tanah mengembang dan mengerut atau disebut nilai COLE (Coefficient of Linear Extensibility). Contoh tanah terganggu digunakan untuk penetapan tekstur tanah atau sifat-sifat kimia seperti pH, kandungan bahan organik, kandungan unsur hara, kapasitas tukar kation dan sebagainya.

3.2.   Tekstur dan Warna Tanah

Berikut ini adalah tabel hasil pengamatan tekstur, warna dan pH tanah pada berbagai jenis tanah :
Tabel 1. Penetapan Tekstur, Warna  dan pH Tanah
No.
Jenis Tanah
Tekstur Tanah
Warna Tanah
pH Tanah
1.
Andosol Dramaga
Pasir berlempung

5,0
2.
Latosol Dramaga
Lempung liat berdebu

5,0
3.
Podsolik Dramaga
Liat berdebu

4,0
4.
Regosol Dramaga
Lempung berpasir

5,3

5.
Tanah Bawah

Strong brown
7,5 YR, 4/6
6.
Tanah Atas

Dark brown
7,5 YR, 3/4
Pada percobaan ini kami menggunakan tahap penentuan tekstur tanah dengan metode kualitatif. Metode kualitatif ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan yang didapatkan adalah kita dapat langsung mempraktikkan di tempat dan jenis apapun sehingga dapat diperkirakan jenis tanahnya, selain itu metode ini cenderung lebih mudah digunakan karena hanya dengan cara perasaan. Adapun kelemahan atau kekurangan dari metode kualitatif adalah pada tahap penyimpulan tekstur tanah cenderung tidak selalu tepat, karena tidak adanya angka atau perhitungan yang empiris dari penentuan jenis tekstur tanah itu sendiri. Dari hasil percobaan yang telah dilakukan yaitu tentang tekstur tanah, didapatkan data-data pada empat jenis tanah yang berbeda. Tanah Andosol Dramaga didapatkan data yaitu memiliki tekstur sangat terasa berpasir, sedikit menempel di jari tapi lebih banyak daripada pasir murni dan tidak dapat membentuk bola yang kohesif karena bola mudah pecah dan bola tidak bisa dibentuk menjadi silinder pendek dan tebal, sehingga Tanah Andosol Dramag dapat dikategorikan d jenis dalam tanah pasir berlempung (LS). Tanah Latosol Dramaga memiliki tekstur agak lekat dengan rasa licin (seperti sabun), menempel pada jari dan ibu jari, agak keras bila diolah, bola bisa dibentuk menjadi silinder kurus, silinder kurus dapat dibentuk U, sehingga Tanah Latosol Dramaga dapat dikategorikan dalam jenis tanah lempung liat berdebu (SiCL). Tanah Podsolik Dramaga memiliki tekstur sangat lekat dengan rasa licin seperti sabun, mengkilat dan keras bila diolah (stiff workability), sehingga Tanah Podsolik Dramaga dapat dikategorikan dalam jenis tanah liat berdebu (SiC). Tanah Regosol Dramaga memiliki tekstur terasa berpasir, menempel setidaknya pada satu jari, tidak licin atau lengket, dan mudah diolah tapi tidak semudah seperti pasir berlempung, sehingga Tanah Regosol Dramaga dapat dikategorikan dalam jenis tanah lempung berpasir (SL).
Fungsi utama tanah sebagai media tumbuh adalah sebagai tempat akar mencari ruang untuk berpenetrasi baik secara lateral atau horizontal dan vertikal. Hal ini tergantung pada ruang pori-pori yang terbentuk diantara partikel-partikel tanah. Tesktur tanah menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah yang dinyatakan sebagai perbandingan proporsi relatif antara fraksi pasir (diameter 0,20 - 2,00 mm), debu (0,002 – 0,20 mm) dan liat (diameter < 2,00 mm). Di dalam pengklasifikasian tekstur tanah terdapat sistem USDA dan sistem internasional (Hanafiah, 2007).
Tekstur tanah menunjukkan kasar halusnya tanah atau merupakan susunan relative atau perbandingan banyaknya pasir (sand), debu (silt) dan klei (clay). Berdasarkan susunan relative dari tiga ukuran butir tanah tersebut, maka tekstur tanah dikelompokkan menjadi 12 kelas tekstur. Tekstur tanah mempengaruhi banyak sifat-sifat tanah yang penting seperti mudah tidaknya pengolahan tanah dan karakteristik menahan air.

Pada pengamatan yang telah kami lakukan bahwa warna tanah  bagian atas dan tanah bagian bawah yang kami ukur menggunakan Munsell Soil Color Chart dapat diketahui tanah atas  berwarna Dark Brown dan tanah bawah berwarna Strong Brown.

3.3.   pH Tanah

Potter (1977) dalam Mintardjo et al. (1985) golongkan tingkat keasaman tanah menjadi 3 kelompok, yaitu : a) pH tanah di bawah 4,5 (tanah bersifat sangat asam), b) pH tanah antara 6,6-7,3 (tanah bersifat netral), c) pH tanah antara 7,9-8,4 (tanah bersifat agak basa). Menurut Supardi (1980) pada tambak yang mempunyai pH tanah rendah akan menghasilkan pH air yang rendah pula, karena terjadi efek pencucian, baik pada dasar maupun pematang tambak. Tanah yang mengandung pirit jika diairi, maka pirit akan teroksidasi membentuk asam sulfat yang dapat menurunkan air secara tiba-tiba.
Dari pengukuran yang telah kami lakukan mendapatkan hasil pada Tanah Andosol Dramaga pH-nya 5,0. Tanah Latosol Dramaga pH-nya 5,0. Tanah Regosol Dramaga pH-nya 5,3. Tanah Podoslik Dramaga pH-nya 4,0. Tanah bawah pH-nya 7,5 YR, 4/6 dan tanah atas pH-nya 7,5 YR, 3/4.

3.4. Percobaan Minus One Test

Berikut ini adalah tabel hasil pengamatan minus one test pada tanaman jagung beserta data produksinya :
Tabel 2. Percobaan Minus One Test
No.
Perlakuan
Produksi Real / Aktual ( kg) *
Produksi ( % )
I
II
1.
Kontrol
4,7
4,2
83
2.
Lengkap
6,0
4,8
100
3.
-N
5,2
4,4
90
4.
-P
5,3
4,0
86
5.
-K
5,3
4,9
95
6.
-Ca
6,0
4,3
95
7.
-Mg
5,9
4,7
98
8.
-S
5,3
5,0
96
*Data dari 20 sampel petakan
Dari data hasil produksi jagung pada praktikum yang telah kami lakukan dapat kita ketahui bahwa tanah yang ditanami jagung merupakan tanah yang subur karena pada perlakuan kontrol saja persen produksi jagung mencapai 83 %. Hasil yang diperoleh adalah pada perlakuan kontrol produksinya 83 %, perlakuan lengkap produksinya 100 %, perlakuan –N produksinya 90 %, perlakuan –P produksinya 86 %, perlakuan –K produksinya 95 %, perlakuan –Ca produksinya 95 %, pada perlakuan –Mg produksinya 98 % dan pada perlakuan –S produksinya 96 %. Produksi tertinggi ada pada perlakuan lengkap yaitu 100 % sedangkan produksi terendah ada pada perlakuan kontrol 83 %.
Jagung tidak memerlukan persyaratan tanah yang khusus, hampir berbagai macam tanah dapat digunakan untuk pertanaman jagung. Tetapi jagung yang ditanam pada tanah yang gembur, subur dan kaya akan humus dapat memberi hasil dengan baik di samping pengelolaan yang bagus akan membantu keberhasilan usaha pertanaman jagung (AAK, 1993).













SIMPULAN


Ø  Tanah Andosol Dramaga termasuk pasir berlempung dengan pH tanah 5,0.
Ø  Tanah Latosol Dramaga termasuk lempung liat berdebu dengan pH tanah 5,0
Ø  Tanah Podsolik Dramaga termasuk liat berdebu dengan pH tanah 4,0.
Ø  Tanah Regosol Dramaga termasuk lempung berpasir dengan pH tanah 5,3.
Ø  Tanah Bawah berwarna strong brown dengan pH tanah 7,5 YR, 4/6.
Ø  Tanah Atas berwarna dark brown dengan pH tanah 7,5 YR, 3/4.
Ø  Tanah yang ditanami jagung merupakan tanah yang subur.






















DAFTAR PUSTAKA


Hanafiah A. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jakarta (ID): PT Raja Grafindo Persada.
Purwowidodo. 2006. Ganesa Tanah. Institute Petanian Bogor Press. Bogor.

Sutanto, Rachman. 2009. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Konsep dan Kenyataan.
Kanisius. Yogyakarta.