TANAH DAN PEMUPUKAN
Disusun
Oleh :
Liska
Ayulia
J3W412041
Produksi dan Pengembangan Pertanian
Terpadu
Program Diploma
Institut Pertanian Bogor
2013
DAFTAR ISI
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Tekstur tanah merupakan salah satu sifat tanah
yang menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah yang dinyatakan sebagai
perbandingan proporsi tanah berupa fraksi pasir, debu dan liat. Tekstur tanah
sangat menentukan tingkat pertumbuhan tanaman dan penyerapan air serta mineral.
Tekstur tanah berpengaruh terhadap ketersediaan air yang ada di dalam tanah,
semakin besar maka akan semakin porus dan akar akan mudah melakukan penetrasi.
Untuk mengetahui peranan tekstur tanah bagi ketersediaan air, untuk hara dan
pertumbuhan tanaman, maka pentingnya dilakukan pengamatan tekstur tanah ini. Apabila
kita memahami dan mengetahui berbagai macam tekstur tanah itu sendiri, sehingga
dalam melakukan budidaya akan menjadi optimal (Praharyanto, 2012).
Selain tekstur tanah pH tanah juga
sangat berpengaruh terhadap budidaya tanaman. Nilai pH menunjukkan banyaknya konsentrasi ion hidrogen (H+)
di dalam tanah. Semakin tinggi kadar ion H+ di dalam tanah, semakin masam tanah
tersebut. Di dalam tanah selain H+ dan ion-ion lain ditemukan pula ion OH-,
yang jumlahnya berbanding terbalik dengan banyaknya H+. Pada tanah-tanah masam
jumlah ion H+ lebih tinggi daripada OH-, sedangkan pada tanah alkalis kandungan
OH- lebih banyak daripada H+. Bila kandungan H+ sama dengan OH- , maka tanah
bereaksi netral yaitu mempunyai pH = 7 (Anonim 1991). Tanah di Indonesia pada umumnya
bersifat masam dengan kisaran pH 4,0 –
5,5 sehingga tanah dengan pH 6,0 – 6,5 bisa dikatakan cukup netral meskipun
sebenarnya masih agak masam. Di daerah rawa-rawa sering ditemukan tanah-tanah
sangat masam dengan pH kurang dari 3,0 yang disebut tanah sangat masam karena
banyak mengandung asam sulfat.
1.2. Tujuan
Ø Menentukan
tekstur dan jenis tanah.
Ø Menentukan
warna tanah dengan Munsell Soil color Chart
Ø Menentukan bentuk
dan ukuran dari agregat tanah.
Ø Mengetahui tekstur tanah berhubungan
dengan pertumbuhan tanaman.
Ø Menetapkan pH tanah dengan
menggunakan menggunakan kertas pH paper.
Ø Mengetahui percobaan Minus One Test.
BAHAN DAN METODE
2.1. Pengambilan Contoh Tanah
Hari :
Sabtu
Waktu : di Lahan Gunung Gede Diploma
IPB
Alat :
·
Cangkul
·
Pisau
/ Cutter
·
Garpu
·
Ring
Sampel
Bahan :
·
Tanah
Utuh
·
Tanah
Agregat
·
Tanah
Terganggu
Prosedur Pengambilan :
a.
Tanah Utuh
1. Ratakan dan bersihkan permukaan
tanah dari rumput atau serasah.
2. Gali tanah sampai kedalaman tertentu
(5-10 cm) di sekitar calon tabung tembaga diletakkan, kemudian ratakan tanah
dengan pisau.
3. Letakkan tabung di atas permukaan
tanah secara tegak lurus dengan permukaan tanah, kemudian dengan menggunakan
balok kecil yang diletakkan di atas permukaan tabung, tabung ditekan sampai
tiga perempat bagian masuk ke dalam tanah.
4. Letakkan tabung lain di atas tabung
pertama dan tekan sampai 1 cm masuk ke dalam tanah.
5. Pisahkan tabung bagian atas dari
tabung bagian bawah.
6. Gali tabung menggunakan garpu. Dalam
menggali, ujung garpu harus lebih dalam dari ujung tabung agar tanah di bawah
tabung ikut terangkat.
7. Iris kelebihan tanah bagian atas
terlebih dahulu dengan hati-hati agar permukaan tanah sama dengan permukaan
tabung, kemudian tutuplah tabung dengan menggunakan tutup plastik yang telah
tersedia. Setelah itu, iris dan potong kelebihan tanah bagian bawah dengan cara
yang sama dan tutuplah tabungnya.
8. Cantumkan label di atas tutup tabung
bagian atas contoh tanah.
b.
Tanah Agregat
1. Ambil tanah dengan menggunakan
cangkul pada kedalaman 0-20 cm.
2. Masukkan bongkahan tanah ke dalam
kantong plastik.
3. Cantumkan label.
c.
Tanah Terganggu
1. Ambil tanah dengan menggunakan
cangkul pada kedalaman tertentu sebanyak 1-2 kg.
2. Masukkan ke dalam kantong plastik.
3. Cantumkan label.
2.2. Tekstur dan Warna Tanah
Hari :
Sabtu
Waktu :
di Lahan Gunung Gede Diploma IPB
Alat :
·
Munsell
Soil Color Chart
Bahan :
·
Tanah
Regosol
·
Tanah
Latosol
·
Tanah
Andosol
·
Tanah
Podsolik
·
Tanah
Agregat
·
Air
Prosedur :
a. Tekstur
Tanah
1. Ambil tanah satu genggam dan basahi
dengan air secukupnya.
2. Pijit dan pirit tanah tersebut di
antara ibu jari dengan jari yang lainnya dan rasakan tekstur pada tanah.
3. Bentuklah bola lembab dengan
diameter 2,5 cm.
4. Perhatikan bola yang terbentuk
apakah utuh atau retak/pecah.
5. Lihat urutan kerja sesuai dengan
skema gambar.
b. Warna
Tanah
1. Ambil tanah agregat bagian atas dan
bawah.
2. Siapkan Munsell Soil Color Chart.
3. Belah tanah agregat menjadi dua.
4. Letakkan tanah bagian dalam di bawah
lubang kertas Munsell Soil Color Chart.
5.
Catatlah
hasilnya.
2.3. pH Tanah
Hari : Sabtu
Waktu : di Lahan
Gunung Gede Diploma IPB
Alat
:
·
pH
paper skala 4-7
·
Botol
plastik
Bahan :
·
Tanah
Atas dan Bawah
·
Tanah
Andosol
·
Tanah
Latosol
·
Tanah
Podsolik
·
Tanah
Regosol
·
Akuades
Prosedur
Pengukuan pH Tanah :
1. Masukkan tanah sekitar 10 gram ke
dalam botol plastik setiap masing-masing jenis tanah.
2. Tambahkan akuades 25 cc.
3. Kocok selama 5 menit dan diamkan
hingga tanah mengendap.
4. Celupkan pH paper.
5. Ukur nilainya.
2.4. Percobaan Minus One Test
Hari : Sabtu
Waktu : di Lahan
Gunung Gede Diploma IPB
Alat
:
·
Cangkul
·
Garpu
·
Kored
·
Tali
Rafia
·
Gunting
·
Gembor
·
Tugal
·
Timbangan
·
Kayu
Ajir
·
Foto
tentang defisiensi hara
Bahan :
·
Benih
Jagung
·
Kapur
·
Pupuk
(N, P, K, Mg, Ca, S)
·
Urea
·
Pestisida
·
Furadan
·
Air
Prosedur Penanaman Tanaman Jagung :
1. Persiapan dan Pengolahan Lahan
Lahan yang digunakan seluas 2,4 m x
6,4 m. Lahan dibagi menjadi dua petak untuk perlakuan pupuk yang berbeda yaitu
-P dan -Mg. Gemburkan lahan menggunakan cangkul dan buat saluran drainase agar
aerasi berlangsung baik. Kemudian taburkan kapur secara merata guna meurunkan
sifat asam tanah dan diamkan selama satu minggu.
2.
Penanaman
Buatlah jarak tanam 80 cm x 40 cm.
Gunakan tali rafia dan kayu ajir untuk mempermudah pembuatan lubang tanam dan
lubang tanam. Buat lubang tanam menggunakan tugal. Masukkan furadan pada tiap
lubang tanam dan letakkan 2 benih jagung per lubang. Tutup lubang tanam dengan
tanah.
3.
Penyulaman
dan Pemeliharaan Tanaman
Sulamlah tanaman yang tidak tumbuh
dengan benih baru. Bersihkan gulma dan rumput liar menggunakan kored.
4.
Pemupukan
Setiap petak perlakuannya berbeda.
Petak pertama menggunakan pupuk –Mg dan petak kedua pupuk –P. Pada tiap petak
juga diberi pupuk urea. Pupuklah dengan membuat alur di samping tanaman.
5.
Pengamatan
Defisiensi Hara
Kenali dan amati gejala defisiensi
hara yang ada pada foto. Lalu amati gejala defisiensi hara yang ada pada
tanaman jagung. Catat perlakuannya dan cocokkan dengan gejala defisiensi hara
yang ada di foto.
6.
Pemanenan
Panenlah semua tanaman jagung. Ambil
20 buah untuk sampel pada masing-masing perlakuan lalu timbang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
3.1. Pengambilan Contoh Tanah
Pengambilan contoh tanah merupakan
tahapan penting untuk menetapkan sifat-sifat tanah di laboratorium. Hasil
analisis tanah di laboratorium harus dapat menggambarkan keadaan yang
sesungguhnya di lapang. Keuntungan penetapan sifat fisik, kimia dan biologi
tanah di laboratorium dapat dikerjakan lebih cepat dan dengan jumlah contoh
yang relatif banyak. Kerugiannya adalah contoh tanah yang diambil di lapangan
bersifat destruktif, karena dapat merusak permukaan tanah, seperti terjadinya
lubang bekas pengambilan contoh tanah, cenderung menyederhanakan kompleksitas
sistem yang ada di dalam tanah dan sebagainya.
Pengambilan contoh tanah sangat
menentukan tingkat keakuratan hasil analisis di laboratorium. Oleh karena itu,
metode atau cara pengambilan contoh tanah yang tepat sesuai dengan jenis
analisis yang akan dilakukan merupakan persyaratan yang perlu diperhatikan
(Hanafiah, 2004). Pengambilan contoh tanah sesuai dengan prosedur yang benar
ini sangat penting agar data yang dihasilkan dapat digunakan sebagai penduga
nilai rata-rata tingkat kesuburan tanah yang akan digunakan sebagai media tanam
(Hidayat dan Makarim, 1992). Penyebab utama dari contoh tanah tidak
representatif antara lain adalah kontaminasi dan jumlah contoh tanah yang
terlalu sedikit untuk daerah yang variabilitas kesuburannya tinggi.
Contoh tanah adalah suatu volume
massa tanah yang diambil dari suatu bagian tubuh tanah (horison/lapisan/solum)
dengan cara-cara tertentu dengan sifat-sifat yang dimiliki (Hardjowigeno,
1987). Untuk keperluan analisis di laboratorium
diperlukan tiga macam contoh tanah, yaitu (1) Contoh tanah utuh (Undisturbed soil sample), (2) Contoh
tanah agregat utuh (Undisturbed soil
agregate), dan (3) Contoh tanah terganggu (Disturbed soil sample). Contoh tanah utuh digunakan untuk penetapan
sifat-sifat fisik tanah seperti kerapatan isi, distribusi ruang pori,
permeabilitas tanah dan kurva pF. Contoh tanah agregat utuh juga digunakan
untuk penetapan sifat-sifat fisik tanah, yaitu stabilitas agregat dan kemampuan
tanah mengembang dan mengerut atau disebut nilai COLE (Coefficient of Linear Extensibility). Contoh tanah terganggu
digunakan untuk penetapan tekstur tanah atau sifat-sifat kimia seperti pH,
kandungan bahan organik, kandungan unsur hara, kapasitas tukar kation dan
sebagainya.
3.2. Tekstur dan Warna Tanah
Berikut ini adalah tabel hasil pengamatan tekstur, warna dan
pH tanah pada berbagai jenis tanah :
Tabel 1. Penetapan Tekstur, Warna dan pH Tanah
|
No.
|
Jenis Tanah
|
Tekstur Tanah
|
Warna Tanah
|
pH
Tanah
|
|
1.
|
Andosol Dramaga
|
Pasir berlempung
|
|
5,0
|
|
2.
|
Latosol Dramaga
|
Lempung liat berdebu
|
|
5,0
|
|
3.
|
Podsolik Dramaga
|
Liat berdebu
|
|
4,0
|
|
4.
|
Regosol Dramaga
|
Lempung berpasir
|
|
5,3
|
|
5.
|
Tanah Bawah
|
|
Strong brown
|
7,5 YR, 4/6
|
|
6.
|
Tanah Atas
|
|
Dark brown
|
7,5 YR, 3/4
|
Pada
percobaan ini kami menggunakan tahap penentuan tekstur tanah dengan metode
kualitatif. Metode kualitatif ini memiliki kelebihan dan kekurangan. Kelebihan yang
didapatkan adalah kita dapat langsung mempraktikkan di tempat dan jenis apapun
sehingga dapat diperkirakan jenis tanahnya, selain itu metode ini cenderung
lebih mudah digunakan karena hanya dengan cara perasaan. Adapun kelemahan atau
kekurangan dari metode kualitatif adalah pada tahap penyimpulan tekstur tanah
cenderung tidak selalu tepat, karena tidak adanya angka atau perhitungan yang
empiris dari penentuan jenis tekstur tanah itu sendiri. Dari hasil percobaan
yang telah dilakukan yaitu tentang tekstur tanah, didapatkan data-data pada
empat jenis tanah yang berbeda. Tanah Andosol Dramaga didapatkan data yaitu memiliki tekstur sangat
terasa berpasir, sedikit menempel di jari tapi lebih banyak daripada pasir
murni dan tidak dapat membentuk bola yang kohesif karena bola mudah pecah dan
bola tidak bisa dibentuk menjadi silinder pendek dan tebal, sehingga Tanah
Andosol Dramag dapat dikategorikan d jenis dalam tanah pasir berlempung (LS). Tanah
Latosol Dramaga memiliki tekstur agak lekat dengan rasa licin (seperti sabun),
menempel pada jari dan ibu jari, agak keras bila diolah, bola bisa dibentuk
menjadi silinder kurus, silinder kurus dapat dibentuk U, sehingga Tanah Latosol
Dramaga dapat dikategorikan dalam jenis tanah lempung liat berdebu (SiCL).
Tanah Podsolik Dramaga memiliki tekstur sangat lekat dengan rasa licin seperti
sabun, mengkilat dan keras bila diolah (stiff
workability), sehingga Tanah Podsolik Dramaga dapat dikategorikan dalam
jenis tanah liat berdebu (SiC). Tanah Regosol Dramaga memiliki tekstur terasa
berpasir, menempel setidaknya pada satu jari, tidak licin atau lengket, dan
mudah diolah tapi tidak semudah seperti pasir berlempung, sehingga Tanah
Regosol Dramaga dapat dikategorikan dalam jenis tanah lempung berpasir (SL).
Fungsi
utama tanah sebagai media tumbuh adalah sebagai tempat akar mencari ruang untuk
berpenetrasi baik secara lateral atau horizontal dan vertikal. Hal ini
tergantung pada ruang pori-pori yang terbentuk diantara partikel-partikel
tanah. Tesktur tanah menunjukkan komposisi partikel penyusun tanah yang
dinyatakan sebagai perbandingan proporsi relatif antara fraksi pasir (diameter
0,20 - 2,00 mm), debu (0,002 – 0,20 mm) dan liat (diameter < 2,00 mm). Di
dalam pengklasifikasian tekstur tanah terdapat sistem USDA dan sistem internasional
(Hanafiah, 2007).
Tekstur
tanah menunjukkan kasar halusnya tanah atau merupakan susunan relative atau
perbandingan banyaknya pasir (sand), debu (silt) dan klei (clay). Berdasarkan
susunan relative dari tiga ukuran butir tanah tersebut, maka tekstur tanah
dikelompokkan menjadi 12 kelas tekstur. Tekstur tanah mempengaruhi banyak
sifat-sifat tanah yang penting seperti mudah tidaknya pengolahan tanah dan
karakteristik menahan air.
Pada pengamatan yang telah kami lakukan bahwa warna tanah bagian atas dan tanah bagian bawah yang kami
ukur menggunakan Munsell
Soil Color Chart dapat diketahui tanah atas
berwarna Dark Brown dan tanah bawah berwarna Strong Brown.
3.3. pH Tanah
Potter (1977) dalam Mintardjo et al.
(1985) golongkan tingkat keasaman tanah menjadi 3 kelompok, yaitu : a) pH tanah
di bawah 4,5 (tanah bersifat sangat asam), b) pH tanah antara 6,6-7,3 (tanah
bersifat netral), c) pH tanah antara 7,9-8,4 (tanah bersifat agak basa). Menurut
Supardi (1980) pada tambak yang mempunyai pH tanah rendah akan menghasilkan pH
air yang rendah pula, karena terjadi efek pencucian, baik pada dasar maupun
pematang tambak. Tanah yang mengandung pirit jika diairi, maka pirit akan
teroksidasi membentuk asam sulfat yang dapat menurunkan air secara tiba-tiba.
Dari pengukuran yang telah kami
lakukan mendapatkan hasil pada Tanah Andosol Dramaga pH-nya 5,0. Tanah Latosol
Dramaga pH-nya 5,0. Tanah Regosol Dramaga pH-nya 5,3. Tanah Podoslik Dramaga
pH-nya 4,0. Tanah bawah pH-nya 7,5 YR, 4/6 dan tanah atas pH-nya 7,5 YR, 3/4.
3.4. Percobaan Minus One Test
Berikut
ini adalah tabel hasil pengamatan minus one test pada tanaman jagung beserta
data produksinya :
Tabel 2. Percobaan Minus One Test
|
No.
|
Perlakuan
|
Produksi
Real / Aktual ( kg) *
|
Produksi
( % )
|
|
|
I
|
II
|
|||
|
1.
|
Kontrol
|
4,7
|
4,2
|
83
|
|
2.
|
Lengkap
|
6,0
|
4,8
|
100
|
|
3.
|
-N
|
5,2
|
4,4
|
90
|
|
4.
|
-P
|
5,3
|
4,0
|
86
|
|
5.
|
-K
|
5,3
|
4,9
|
95
|
|
6.
|
-Ca
|
6,0
|
4,3
|
95
|
|
7.
|
-Mg
|
5,9
|
4,7
|
98
|
|
8.
|
-S
|
5,3
|
5,0
|
96
|
*Data dari 20 sampel petakan
Dari
data hasil produksi jagung pada praktikum yang telah kami lakukan dapat kita
ketahui bahwa tanah yang ditanami jagung merupakan tanah yang subur karena pada
perlakuan kontrol saja persen produksi jagung mencapai 83 %. Hasil yang
diperoleh adalah pada perlakuan kontrol produksinya 83 %, perlakuan lengkap
produksinya 100 %, perlakuan –N produksinya 90 %, perlakuan –P produksinya 86
%, perlakuan –K produksinya 95 %, perlakuan –Ca produksinya 95 %, pada
perlakuan –Mg produksinya 98 % dan pada perlakuan –S produksinya 96 %. Produksi
tertinggi ada pada perlakuan lengkap yaitu 100 % sedangkan produksi terendah
ada pada perlakuan kontrol 83 %.
Jagung tidak memerlukan persyaratan
tanah yang khusus, hampir berbagai macam tanah dapat digunakan untuk pertanaman
jagung. Tetapi jagung yang ditanam pada tanah yang gembur, subur dan kaya akan
humus dapat memberi hasil dengan baik di samping pengelolaan yang bagus akan
membantu keberhasilan usaha pertanaman jagung (AAK, 1993).
SIMPULAN
Ø Tanah
Andosol Dramaga termasuk pasir berlempung dengan pH tanah 5,0.
Ø Tanah
Latosol Dramaga termasuk lempung liat berdebu dengan pH tanah 5,0
Ø Tanah
Podsolik Dramaga termasuk liat berdebu dengan pH tanah 4,0.
Ø Tanah
Regosol Dramaga termasuk lempung berpasir dengan pH tanah 5,3.
Ø Tanah
Bawah berwarna strong brown dengan pH tanah 7,5 YR, 4/6.
Ø Tanah
Atas berwarna dark brown dengan pH tanah 7,5 YR, 3/4.
Ø Tanah
yang ditanami jagung merupakan tanah yang subur.
DAFTAR PUSTAKA
Hanafiah A. 2007. Dasar-Dasar Ilmu Tanah. Jakarta (ID): PT Raja Grafindo Persada.
Purwowidodo. 2006. Ganesa Tanah.
Institute Petanian Bogor Press. Bogor.
Sutanto, Rachman. 2009. Dasar-Dasar
Ilmu Tanah. Konsep dan Kenyataan.
Kanisius. Yogyakarta.